June 13, 2024

Spiritual Improvement

0

Oleh : Santi Kristina Marito Hutagalung

Apa kabar anak-anak Allah? Kita semua tahu kondisi dunia yang sedang menghadapi musibah pandemi Covid-19, termasuk tanah air kita Indonesia. Dampak dari virus ini bukan hanya dirasakan bagi mereka yang terinfeksi, tetapi semua kalangan masyarakat. Segala bidang kegiatan terganggu, mulai dari pendidikan, perekonomian, pekerjaan, bahkan juga kehidupan sehari-hari berjalan tidak seperti biasanya. Kita tidak dapat bersosialisasi seperti biasanya, tidak dapat lagi berkumpul-kumpul, tidak dapat bersalaman, dan lebih banyak mengambil kegiatan yang tidak mengharuskan keluar rumah. Semuanya itu wajar saja diterapkan melihat banyaknya orang yang sudah terinfeksi virus ini dan banyak pula yang meninggal dunia. Untuk itu mari kita berdoa bagi mereka yang sedang berjuang melawan penyakit ini, bagi petugas medis yang berjuang menangani pasien, bagi masyarakat yang kesulitan karena terdampak oleh wabah ini.

Sama seperti setiap hal diatas, bahkan pelayanan yang kita kerjakan di kampus USU pun terkendala dalam pengerjaannya. Semua sudah direncanakan dari awal, dengan matang, bahkan memakan waktu yang lama untuk mencapai pemaparan program. Persiapan-persiapan sudah disusun sedemikian rupa, harapan-harapan pun sudah terangkai dengan sempurna. Bahkan setiap kelompok kecil sudah menyusun apa saja yang akan dikerjakan bersama AKK, PKK atau KTB nya. Pengurus UKM dan UP juga sudah dengan detail menyusun program dan kegiatan untuk mengerjakan 4P. Namun, siapa yang menyangka bahwa semua hal yang direncanakan untuk 12 minggu itu hanya dapat dikerjakan dalam 4 minggu awal pelayanan? Siapa yang menyangka bahwa pelayanan saat ini harus dikerjakan dengan daring? Siapa yang menyangka jika semua rancangan-rancangan yang sudah tertulis dan disepakati di pemaparan program harus batal dan tidak dikerjakan? Kalaupun bisa dikerjakan dengan strategi lain yang dapat dimaksimalkan menggunakan sosial media. Tidak ada satupun dari kita yang menyangka jika virus itu akan sampai pada kita dan merusak segalanya.

Tepat pada tanggal 17 Maret 2020, untuk pertama kalinya USU menerapkan perkuliahan daring. Dan pada tanggal 25 Maret 2020, untuk pertama kalinya juga sebuah pertemuan besar yaitu pertemuan koordinasi UKM dan KWK se-USU dikerjakan secara daring. Semua rencana diawal harus berubah, ada yang tidak dikerjakan dan ada yang dikerjakan dengan metode baru. Awalnya, secara pribadi saya merasa benar-benar tertekan dengan keadaan, memikirkan ini dan itu, bagaimana jika begini dan begitu, kenapa harus seperti ini dan seperti itu. Bukan hanya mengenai pelayanan, tetapi juga studi yaitu pengerjaan tugas akhir yang harus terkendala. Awalnya bersedih karena semua perencanaan berantakan dan tidak sesuai keyakinan di awal, KK harus secara On-line, pertemuan On-line, dan pengisian juga dikerjakan dengan memanfaatkan sosial media serta pengerjaan proposal skripsi yang benar-benar tidak maksimal.

Tetapi satu momen yang saya alami menegur dan mematahkan semua kegelisahan saya, ketika saya membaca Yakobus 4:13-5:6 dan Lukas 12:22-32. Ketika saya hanya membaca sekilas, saya kembali mengingat hal-hal yang menjadi kekuatiran saya. Yah, semua berkata tentang hal teknis, semua kekuatiran itu hanya berkata tentang organisasi UKM KMK USU bukan pelayanannya. Mengapa begitu? Dan inilah yang  saya dapat dari perenungan bersama Tuhan:

Dalam surat Yakobus yang ditulis oleh Yakobus, hamba Allah dan Tuhan Yesus Kristus yang ditujukan kepada kedua belas suku di perantauan (ayat 1) yang isinya mengenai bagaimana untuk hidup di dalam iman dan hikmat serta tidak terjatuh kedalam dosa. Seperti dalam pasal 4:13-5:11 ini, pada pasal 4:13-17 Yakobus memberi percontohan yaitu kehidupan seperti seorang pedagang yang berencana akan pergi ke sebuah kota untuk berdagang dan akan tinggal setahun serta memperoleh keuntungan (ayat 13). Hal yang menarik saat membaca ayat ini adalah pedagang tersebut benar-benar seperti dapat memastikan apa yang akan dialaminya di hari esok yaitu pergi ke kota anu lalu tinggal setahun dan mendapat untung. Oleh karena itu pada ayat berikutnya lebih seperti teguran “…kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok” sama seperti yang tertulis dalam Amsal 27:1 “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu”. Lalu selanjutnya Yakobus seperti memberikan sebuah kalimat retorika “Apakah arti hidupmu?” menariknya pertanyaan tak bertanya ini diiringi oleh pernyataan “hidupmu itu seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap”, mengibaratkan kehidupan manusia di dunia ini hanya seperti uap yang artinya sementara, manusia terbatas, tidak punya kuasa apapun untuk memastikan masa depan (ayat 14). Kedua ayat ini benar-benar menampar saya dan benar-benar menyadari bahwa sesempurna apapun perencanaan dan ekspektasi yang kita miliki untuk hari esok, tidak ada satupun yang dapat manusia pastikan akan terlaksana. Sebab kehendak-Nya jauh terlebih sempurna dari perencanaan kita.

            Lalu apa yang harus dilakukan sebagai orang percaya dalam merencanakan sesuatu? Apakah karena kita tidak dapat memastikan hari esok lantas kita tidak bisa berencana sama sekali? Mari kita baca ayat 15, ada kata “Sebenarnya……” yang artinya ini adalah hal yang benar yang harus kita kerjakan dan pikirkan “ Jika Tuhan menghendakinya,” artinya Tuhan menjadi dasar dari setiap perencanaan itu, yang seharusnya pedagang kerjakan adalah menyerahkan semua perencanaan mereka itu kepada kehendak Tuhan saja. Lalu disertai dengan kalimat “…, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Mencari kehendak Tuhan terlebih dahulu dalam mengerjakan apapun, seperti yang kita sama-sama pernah, sedang, atau akan pelajari dalam MHB 8. Selanjutnya di ayat 16 mengantarkan kita kembali ke ayat 13, dimana manusia yang diibaratkan seperti pedagang yang “….memegahkan diri dalam congkakmu,” dan ditegaskan lagi bahwa hal yang demikian adalah salah lalu di ayat 17 pun dikatakan bahwa ketika kita tahu apa yang benar untuk dilakukan tetapi kita tidak melakukannya, maka kita berbuat dosa sama seperti ketika kita tahu bahwa mengandalkan Tuhan dalam setiap perencanaan itu adalah hal yang benar tetapi kita tidak melakukannya maka kita berdosa. Membaca ketiga ayat ini maka menimbulkan pertanyaan yang lebih tepatnya perenungan secara pribadi, sudahkah kami mendasarkan perencanaan kami kepada Tuhan? Sudahkah kami mengandalkan Tuhan dalam mengerjakan pelayanan ini? Sudahkah kami benar-benar mencari kehendak-Nya? Bahkan sudahkah kami benar-benar mengerjakan apa yang menjadi kehendak-Nya?. Hingga akhirnya satu hal menyadarkan, “Lihat ! banyak hal dari spriritualmu yang masih perlu diperbaiki dan disempurnakan. Dan Tuhan memakai kondisi saat ini dimana kau akan lebih banyak merenungkan hal-hal yang sudah kau kerjakan sebelumnya dan hal-hal yang sedang dan akan kau kerjakan”.

            Saya lebih banyak bertanya-tanya, lalu kenapa seringkali disaat Social Dinstancing ini merasakan tertekan dan depresi memikirkan ini dan itu? Apa yang takut diambil dan diubah dari diri kita?

            Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang tengah mengumpulkan harta dunia yang fana, harta yang sia-sia yang hanya akan memakan daging kita. Seperti yang tertulis dalam Yakobus 5:2-3, dikatakan “Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat! Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir.” Beginilah yang terjadi jika yang dicari manusia hanyalah harta dunia yang tidak kekal, hal ini mengingatkan saya kembali pada perkataan Yesus dalam Lukas 12:33-34, seharusnya yang kita cari adalah suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak akan didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Jangan lah kita sampai menghalalkan segala cara agar harta yang fana itu terkumpul dan menjadi kepunyaan kita seperti tertulis dalam Yakobus 5:4-6, seperti menahan upah (memeras, menipu), berfoya-foya, dan bahkan membunuh orang yang benar. Mungkin yang saya dapati disini bukan hanya harta kekayaan seperti emas, uang, mobil, rumah, dan lainnya, tetapi juga berhasilnya program-program yang telah direncanakan, studi yang berjalan baik, kesehatan yang tidak terancam, kehidupan sehari-hari yang tidak terganggu, keluarga yang aman, dan lainnya. Jangan sampai kita hanya mengejar dan hanya terfokus kepada harta-harta yang menggerogoti rohani kita. Sebab, Dia sudah membuktikan, itu semua sia-sia jikalau kita tidak punya suatu harta yang kekal disorga, hanya dengan datangnya virus yang tidak kelihatan ini saja sudah mampu meluluhlantakkan semua. Program-program kita, studi kita, harta kita, impian-impian kita, semua tidak lagi ada kuasanya. Karena yang terpenting bukanlah harta-harta yang fana itu, harta yang dapat membuat kita menjadi tamak dan tidak setia.

            Nah, hal inilah yang membuat kuatir, terutama bagi kita mahasiswa yang sedang mengerjakan studi “Bagaimana tugas akhirku? Bagaimana praktikum ku?” atau bagi kita pengurus pelayanan “Bagaimana kelompok kecil kami? Bagaimana 4P kami?” bahkan para pekerja “Darimana dapat penghasilan? Mau makan apa?”, padahal Yesus berkata dalam Lukas 12:22-32, janganlah kuatir sebab bukan lah hal-hal yang kita anggap penting yang sebenarnya benar-benar penting. Kita kuatir tentang makanan dan pakiaan padahal hidup dan tubuh lebih penting dari hal itu. Sebab Allah tidak mungkin tidak akan memberikan kepada kita apa yang kita perlukan, satu lagi yang perlu disadari “Hal yang kita inginkan belum tentu itu yang kita perlukan” maka dari itu mengapa harus kuatir, karena yang paling utama adalah “Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.” hal-hal slain daripada Kerajaan-Nya adalah bonus untuk kita. Sebab itu “Janganlah takut…..” sebab Bapa yang berkuasa memberikan semua itu.

            Hidup kita bukanlah milik kita; studi, kesehatan, kekayaan kita juga bukanlah milik kita; bahkan pelayanan ini juga bukanlah milik kita. Apa yang terjadi saat ini sudah cukup menyatakan bahwa manusia tidak ada apa-apa nya disbanding dengan keagungan Tuhan. Apa masalah nya jika program yang sudah direncanakan tidak terlaksana? Apa masalahnya jika kita melakukan segalanya dengan daring? Kita malah bersyukur adanya sosial media yang memudahkan kita mengambil strategi lain. Toh yang paling penting ketika program dapat terlaksana sesuai perencanaan ataupun tidak bukanlah terletak pada suksesnya kegiatan, banyaknya orang datang, atau tercapainya sasaran, tetapi terletak pada sikap hati setiap orang-orang yang melaksanakan dan yang ambil bagian dalam setiap program itu. Yang terpenting kan bukan programnya, tetapi untuk apa program itu dikerjakan; yang terpenting itu bukan UKM KMK USU nya, tetapi siapa yang menjadi pemilik UKM KMK USU yang sesungguhnya. Biarlah kondisi ini semakin membawa kita kepada kesadaran-kesadaran baru, membawa kita kembali duduk di kaki-Nya keluar dari rutinitas-rutinitas yang mungkin selama ini hanya sebuah rutinitas dan tidak lebih dari itu, biarlah kita menelaah untuk apa dan untuk siapa semua itu kita kerjakan dulu, sehingga kita akhirnya memiliki hati yang siap untuk memperbaiki semuanya ketika kita dapat melaksanakan nya lagi dan tidak lagi seperti biasanya karena rohani kita sudah siap mengerjakan kehendak-Nya. Dan akhirnya kita paham bahwa mencari kehendak-Nya itu jauh lebih utama daripada mengerjakan rutinitas-rutinitas pelayanan. Walaupun kondisi pandemi ini yang merubah semua sistem dan metode, bukan berarti semangat dalam mengerjakan visi itu meredup, dan beban untuk berbagi Injil pun melemah, serta hati untuk terus bertekun dan taat pun menghilang. Justru kita memerlukan penyempurnaan kerohanian sebelum mengerjakan semuanya seperti sedia kala, agar kita lebih paham betapa pentingnya mengambil ruang dan waktu sendiri bersama Tuhan dan merenungkan firman-Nya.

 

God Bless Us

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *