July 19, 2024

Refleksi Mengawali Tahun yang Baru

3
By : John Philip Hutagalung

Syalom saudara-saudaraku terkasih dalam Tuhan Yesus. Kiranya kasih dan sukacita senantiasa memenuhi hati kita di tahun baru ini.

     Dunia sedang berada pada situasi yang sulit, sejak awal tahun 2020. Sudah hampir 2 tahun pandemi melanda dunia dan belum ada kepastian kapan akan berakhir. Walaupun demikian, kita patut bersyukur di tengah tangis, duka, ketakutan, kekuatiran akibat Covid-19, kita masih ada dan hidup. Semata-mata karena kasih karunia-Nya.
     Saya mau mengajak kita sejenak merenungkan apa yang terjadi dalam dua tahun belakangan ini, di mana dunia berubah dan berputar seolah lebih cepat dari biasanya. Ya, covid membawa banyak perubahan dalam tatanan masyarakat, dalam cara berelasi satu dengan yang lain. Baik sebagai personal maupun sebagai kelompok atau masyarakat.
     Masih ingat di benak kita, saat pertama sekali pemerintah dunia mendorong dan memberlakukan lock down dan pertemuan dan kegiatan daring. Banyak diantara kita kaget dan tidak siap dengan perubahan ini. Kita dipaksa harus menggunakan teknologi dan belajar hal-hal baru yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan banyak orang, khususnya mereka yang bukan generasi millenial.
     Ada isue yang mencuat saat itu dan masih ada sampai sekarang bahwa Covid adalah rekayasa dan proyek super besar dari para pemegang kuasa dan uang untuk mengontrol dunia ke arah yang mereka mau. Banyak orang kalangan ”religius” yang percaya bahwa ini adalah tanda-tanda akhir zaman. Dunia masuk pada zaman yang sangat sulit untuk bisa diprediksi, oleh karena perubahan itu sendiri berlangsung sangat cepat. Tahun lalu kita merasa bahwa yang perlu kita lakukan adalah belajar menggunakan zoom, skype, google meet dan lebih sering berinteraksi dengan dunia sosial media, sambil menunggu covid akan berlalu. Kita berharap sesudah covid berlalu, semua akan kembali seperti dulu, normal dan tidak ada yang perlu ditakutkan. Benarkan demikian??

Apakah kalau covid sudah berlalu maka dunia akan kembali seperti dulu?

Sayangnya hal itu tidak akan terjadi. Sebab covid itu sendiri sudah menjadi pembawa atau katalisator perubahan ke dunia yang baru. Dunia yang tidak hanya sekedar digital, tetapi dunia tiga dimensi.

Membayangkan dunia 5 tahun dari sekarang sangat menantang dan juga penuh dengan kekuatiran.

Mengapa? Saya ingin kita melihat lebih serius tentang apa yang mungkin dan mampu untuk dilakukan oleh manusia, yaitu kita sendiri? Bisa dikatakan semua sekarang menjadi mungkin dan bisa untuk dilakukan.

Saya membayangkan dunia kita 3-5 tahun yang akan datang akan mengalami perubahan yang sangat cepat dari sisi cara berpikir, cara belajar, cara bekerja, cara berbicara dan cara kita memimpin akan sangat berbeda dari apa yang kita lihat sekarang.

     Menurut saya, tentunya dengan pemahaman teologis yang sederhana, Kitab Kejadian telah memprediksi ini secara gamblang dalam cerita menara babel. Tuhan berkata: Mulai dari sekarang, apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan terlaksana.
     Seolah-olah Tuhan tahu dan mengizinkan bahwa kita manusia, sebagai gambar dan rupa Allah, diberikan kemampuan untuk melakukan hal yang tidak mungkin.
     Apa yang terjadi kalau dunia akan mulai memperkerjakan AI dan robot-robot canggih? Bisakan dunia mengerem hal ini? Dunia usaha akan melirik ini sebagai cara yang paling aman dan efisien dalam melakukan bisnis yaitu dengan menggunakan tenaga kerja mesin dan robot yang hak-haknya jauh lebih sederhana dan murah dibandimgkan dengan manusia. Di saat yang bersamaan, pengangguran akan bertambah tetapi dunia usaha akan bisa menghemat banyak biaya dan tenaga manusia. Semua mungkin didasarkan pada pertimbangan bahwa manusia memiliki rasa dan emosi, tetapi robot tidak.

Bagaimanakah injil menjawab tantangan ini?

Di masa depan, banyak relasi antar manusia yang terbangun dengan cara yang tidak sama seperti saat ini. Bahkan kalau manusia tidak bisa mendapatkan kepuasan dari sesama manusia lainnya, mereka akan beralih ke mesin, komputer atau AI yang di masa depan semakin menyerupai otak manusia. Siapkah kita masuk dalam masa ini? Masuk dalam dunia digital 3D? Kehidupan yang seolah nyata tetapi tidak akan menjadi alternatif pemuas kebutuhan manusia akan kasih sayang, relasi dan pengakuan. Tantangan persekutuan di masa depan adalah: persekutuan bisa dilakukan lewat daring, tidak perlu bertemu langsung, dan sayangnya nanti di masa depan orang yang kita lihat dalam dunia digital bukanlah manusia yang nyata, tetapi hanya sekedar manusia produk AI yang super canggih.

Apa yang harus dilakukan gereja dan persekutuan orang percaya untuk menghadapi dunia yang seperti ini?

Banyak orang mungkin akan merasa bahwa mereka punya banyak teman, karena mereka memiliki banyak follower di IG, Tiktok atau flatform lain.

Tetapi apakah mereka benar-benar mengerti apa arti berelasi dan mengasihi sesama manusia lain?

Pertanyaan ini begitu membuat saya penasaran dan saya banyak merenungkan hal ini, berdoa dan berharap gereja dan orang percaya sudah mempersiapkan diri untuk ini. Jadi Covid-19 telah menjadi jembatan terhadap pengaplikasian terhadap perubahan teknologi yang jauh lebih maju. Dunia teknologi berlomba-lomba untuk menghasilkan produk yang semakin maju agar bisa bersaing dan memenangkan persaingan bisnis dan teknologi.

Di masa depan pertanyaan yang harus dijawab dalam kampus mungkin bukan lagi pertanyaan; Apakah kamu mau ikut kelompok kecil, tetapi apakah kamu mau ketemu dalam kelompok kecil secara langsung?

Karena mereka mungkin akan memilih tidak ikut kelompok kecil karena tidak penting, mau ikut tetapi lewat daring saja untuk menghemat waktu dan biaya. Atau mereka tidak mau percaya adanya Tuhan. Kemajuan teknologi dan penemuan-penemuan bisa menjauhkan manusia dari iman kepada Tuhan seperti banyak terjadi masa lalu.

  • Seberapa efektifkah pelayanan yang kita lakukan lewat daring membawa orang dalam pengalaman keselamatan dalam Yesus Kristus?
  • Bagaimana kita tahu kalau orang yang kita layani sungguh-sungguh percaya pada firman dan Tuhan?
  • Kalau kita tidak pernah bertemu secara langsung dengan mereka?
  • Bagaimana kalau ternyata mereka tidak sunguh-sungguh?
  • Apa yang perlu dipersiapkan oleh pelayanan untuk mengantisipasi kemajuan teknologi ini?
  • Masihkah Tuhan dan firman-Nya relevan dalam dunia yang akan datang?

     Saya sangat suka waktu makan bersama keluarga, karena kita bisa berinteraksi dan saling tahu dengar rileks apa yang terjadi dengan orang lain di meja makan. Jadi salah satu yang selalu saya dorong pada setiap orang adalah untuk makan bersama dan habiskan waktu ngobrol hal-hal yang positif, berdoa, menhibur, memuji Tuhan bersama. Hal ini menjadi satu-satunya perbedaan kita dengan hewan dan apalagi mesin atau komputer.

3 thoughts on “Refleksi Mengawali Tahun yang Baru

  1. Benar sekali, mari terus berdoa untuk persekutuan di dalam TUHAN yang akan menjadi interaksi yg saling membangun dalam menghadapi era tekhnologi yg terus bergerak cepat.

      1. Semua yang telah terjadi dan yang akan terjadi sudah dinubuatkan dalam kitab suci. Mendekatkan diri pada Tuhan adalah satu satunya cara agar tidak terjerumus dalam permainan politik para kapitalis global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *