July 19, 2024

Peran Alumni di Lingkungan Gereja

0
Menjadi alumni yang siap menjadi garam dan terang bagi keluarga, gereja, masyarakat, bangsa dan negara, bahkan dunia.”

Kalimat tersebut adalah visi dari sebuah pelayanan mahasiswa yang saya ikuti selama duduk di bangku perkuliahan di kampus USU Medan. Sungguh, sebuah visi yang sangat besar dan dalam maknanya. Sebuah visi yang terus menerus diingatkan, didoakan, dikerjakan dan ditransfer dari generasi ke generasi di pelayanan tersebut, namun berhasil tidaknya visi itu dilihat sejak mahasiswa tersebut menjadi seorang alumni (sarjana/diploma). Visi itu telah menolong saya dan suami untuk tetap mengingat kepada panggilan hidup yang telah Tuhan tetapkan bagi kami; juga telah memampukan kami untuk tetap setia berjuang menjadi garam dan terang di tengah-tengah keluarga besar, pekerjaan, gereja, bangsa dan Negara. visi itu juga mengingatkan kami akan peran yang harus terus menerus kami kerjakan dan perjuangkan dalam segala aspek kehidupan. Dan yang uniknya, aspek yang paling membutuhkan komitmen besar dalam menghidupi visi itu adalah dalam hal bergereja. Kenapa demikian?

Berbicara tentang gereja, kita cenderung membayangkan tentang hal-hal yang mudah dilihat, seperti gedung, ibadah, jemaat, pujian, alat musik dan lain sebagainya. Hal-hal yang demikian pasti selalu kita ingat ketika berbicara tentang gereja, tetapi kita sering lupa arti yang sesungguhnya dari sebuah gereja itu sendiri. Gereja memiliki dua makna,yaitu visible church dan invisible church. Visible church adalah perkumpulan lokal orang Kristen; sementara invisible church adalah seluruh orang percaya sepanjang abad dan tempat.

Kebanyakan orang, termasuk para alumni Kristen, yang nota bene adalah kaum intelektual, baik yang telah dibina ataupun yang tidak dibina di pelayanan mahasiswa sebelumnya, lebih banyak membangun gereja yang visible saja sehingga terlupa bahwa sesungguhnya yang membuat gereja itu hidup dan terus berbuah adalah ketika setiap jemaat di perkumpulan lokal tersebut merupakan orang yang sungguh-sungguh percaya di dalam iman kepada Yesus Kristus (invisible church). Maka tidak mengherankan di zaman ini, gedung gereja dibangun dengan sangat megah, lengkap dengan peralatan-peralatannya yang semakin canggih dan megah, jumlah jemaatnya juga semakin lama semakin banyak, kegiatan-kegiatan gereja yang semakin banyak, namun justru pertumbuhan dan buah iman dari jemaatnya malah semakin hambar dan tidak terlihat. Semakin sulit menemukan anggota jemaat yang sungguh-sungguh hidup dalam Firman Tuhan dan berani tampil berbeda dari dunia ini. Semakin sedikit jemaat yang mau menjadi “hamba Tuhan” di dalam gereja, tetapi banyak yang mau menjadi “pemilik panggung” di dalam gereja.

Maka tidak heran jika saat ini semakin banyak gereja yang tidak lagi menunjukkan identitas sebagai kumpulan orang yang telah dipanggil keluar dari dalam kegelapan, menuju kepada terang Allah, atau yang kita kenal dengan istilah ekklesia (Matius 16:18; 18:17-18; Galatia 1:2; 2Kor.1:1; 1Tes.1:1). Banyak fakta yang dapat kita lihat dari gereja mengenai ini, sebut saja salah satunya adalah kejadian yang sempat menghebohkan gereja pada April yang lalu, khususnya di daerah Sumatera Utara karena meninggalnya seorang ibu bersama kedua anak kembarnya yang diduga meninggal karena bunuh diri di rumahnya sendiri, di Lubuk Pakam, Deli Serdang. Padahal suaminya dan orang tuanya dikenal sebagai jemaat yang sangat aktif di kegiatan gereja, bahkan menjadi penatua dan pengurus di gereja tersebut. Di samping itu, kita bisa juga melihat fenomena yang semakin marak terjadi, termasuk dikalangan gereja, yaitu perceraian, yang juga semakin melonjak drastis, terutama sejak pandemic covid 19 melanda dunia, khususnya Indonesia. Berita yang juga tidak kalah menghebohkan akhir-akhir ini yaitu mengenai sikap dan pandangan PGI terhadap LGBTIQ (Lesbian, gay, biseksual, transgender, Interseksual dan queer) pada tahun 2016, yang telah menimbulkan pro dan kontra di kalangan gereja sendiri di Indonesia hingga saat ini. Belum lagi kita menyoroti kepada kasus korupsi dan pelecehan seksual yang juga sesungguhnya marak terjadi di tengah-tengah gereja namun sangat minim perhatian dan kepedulian untuk menyelesaikannya, apalagi memberantasnya. Ditambah lagi zaman digitalisasi saat ini, membuat hampir semua orang, termasuk jemaat gereja, lebih menikmati  dan berfokus kepada diri sendiri, sehingga kehadiran umat lain seolah-olah tidak lagi dibutuhkan. Bahkan gereja,yang juga disebut sebagai tubuh Kristus di dalam Efesus 4, pun sepertinya hanyalah sebuah khayalan di dunia nyata namun seolah-olah nyata di dunia maya. Setiap orang semakin mudah terhubung di dunia maya, tetapi justru semakin terhilang di dunia nyata(yang sebenarnya).

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Terlebih lagi sebagai kaum intelektual, yang telah dipercayakan Tuhan akan ilmu pengetahuan, lengkap dengan sertifikat sebagai seorang sarjana/diploma, seharusnya kehadiran alumni di tengah-tengah gereja sangatlah berperan penting. Bukan sekedar menambah jumlah anggota visible church, tetapi seharusnya siap menjadi motor/penggerak perotabatan dan perubahan gereja tersebut menuju invisible church yang semakin nyata dan kuat setiap hari. Para alumni dari berbagai bidang ilmu pengetahuan, semestinya telah memiliki bekal yang lebih dari cukup untuk menghadapi isu-isu yang tengah marak di tengah-tengah gereja masa kini. Apalagi kaum intelektual ini juga telah dibekali dengan sedemikian rupa akan pengajaran, doktrin dan keterampilan-keterampilan hidup, termasuk kepemimpinan di masa-masa kuliah. Kehadiran para sarjana/diploma ini seharusnya menjadi jawaban atas ketertiduran gereja terhadap tritugas gereja selama ini, bukan justru menambah jumlah jemaat yang ikut tertidur dari tugas gereja tersebut.

Memang bukanlah suatu hal yang mudah untuk dapat langsung mengubah atau memperbaiki suatu kondisi/masalah yang telah bertahun atau bahkan mungkin puluhan tahun berlangsung. Namun ketika kita mau setia berjuang, konsisten berkarya dan senantiasa mengasihi, Tuhan pun pasti melihat, memperhitungkannya dan Dia pun akan memulihkan gereja semakin hari semakin bertumbuh dan hidup di dalam kehendakNya dan semakin hari semakin memancarkan hidup sebagai tubuh Kristus. Dibutuhkan kesetiaan dan ketekunan dalam doa bagi gereja kita.

Karena sebuah pertobatan dan perubahan hanyalah dapat dikerjakan oleh Roh Allah. Maka kita harus tekun berdoa dalam roh dan kebenaranNya.

Diperlukan kerelaan membayar harga bahkan menderita demi perbaikan  dari dalam gereja itu sendiri. Karena sebagai anggota gereja, apalagi ketika kita baru bergabung dengan gereja tersebut, dibutuhkan pengenalan yang baik untuk dapat mempengaruhi pola pikir bahkan nilai hidup jemaat, termasuk para pemimpin gereja. Maka sangatlah dibutuhkan peran aktif kita di dalam gereja, sehingga kehadiran kita tidak ditolak, tetapi lewat karya-karya yang benar dan sesuai dengan kebutuhan gereja, kita pun akan menjadi pemimpin yang membawa perubahan bagi jemaat dan gereja tanpa  harus menjadi seorang pejabat pemimpin gereja.

Sebagai satu tubuh Kristus, kita juga membutuhkan sinergisitas dalam membangun gereja dengan lebih efektif, efisien dan kreatif, baik itu dalam menjaga pengajaran yang sehat (Matius 28:20), ataupun dalam menggerakkan kehidupan misi gereja. Dan kita para alumni sangatlah mungkin untuk melakukannya karena kita telah dibekali dengan lebih dari cukup dalam hal ini selama di kampus, terlebih lagi bagi mahasiswa yang diberikan keistimewaan menikmati pembinaan di pelayanan mahasiswa. Hanya saja memang dibutuhkan kerendahan hati dan kepekaan untuk tetap fokus dalam panggilan kita masing-masing sebagai bagian dari gereja kita.

Dan yang terakhir, yang dibutuhkan oleh gereja saat ini adalah teladan hidup. Walaupun merupakan hal yang paling sederhana yang dapat kita lakukan, tapi sangat besar dampaknya. Action speak louder than words. Keteladanan dari diri kita sendiri, juga keteladanan dari keluarga kita sebagai gereja kecil di tengah-tengah dunia ini.  keteladanan dari keluarga kita sebagai bagian dari gereja akan sangat besar mempengaruhi kehidupan gereja, mulai dari relasi suami – istri, nilai-nilai hidup keluarga Kristen, pola asuh dan pendidikan anak, dan juga tujuan hidup keluarga Kristen. Karena sesungguhnya, ujung tombak dari sebuah gereja itu berada pada pertumbuhan dan kesehatan sebuah keluarga dalam segala aspeknya. Ketika keluarga sehat secara utuh (jiwa, raga dan roh), maka gereja pun akan sehat secara utuh karena keluarga adalah gereja kecilnya Allah. Maka jika berbicara tentang peran alumni di tengah-tengah gereja, hal yang paling mudah dan sederhana untuk dikerjakan adalah melalui keluarga.

Jika Anda ingin membangun gereja, bangunlah keluarga Anda di dalam Roh dan Kebenaran Allah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *