June 13, 2024

Negotium Cum Deo – In Relationship with God

0

Negotium cum Deo - “in relationship with God”

Selalu dalam kaitan dengan Allah -(Calvin)

Dalam satu tahun ini tentu kita banyak mengalami suka maupun duka yang kita lewati selama 12 bulan.
Apa yang menjadi penantian kita dalam hari-hari tersebut?
Apakah kita menantikan selesainya studi?
Apakah kita menantikan kenaikan posisi?
Apakah kita menantikan pekerjaan baru?
Kesembuhan dari penyakit?
Atau menantikan teman hidup?
Semua hal tersebut tentu tidak salah untuk kita nanti-nantikan dalam hari yang Tuhan percayakan bagi kita.

Peristiwa Natal akan tenggelam dalam keheningan malam kota kecil Betlehem, seandainya malaikat Tuhan tidak datang untuk mengumandangkan berita sukacita, “Kristus Tuhan sudah lahir di kota Daud.” Nyanyian malaikat merupakan tanda bahwa kemuliaan Allah menaungi isi dunia, direpresentasikan oleh para gembala di padang rumput. Memang dunia ini ibarat padang rumput dengan para gembala serta domba-domba mereka di malam hari. Tenang, hening, hanyut, dan hampir tidak ada kehidupan! Ketika terang ilahi bersinar melingkupi semuanya, tidak hanya para gembala yang tersentak dari lamunannya, dunia pun menggeliat terbangun oleh berita sukacita yang datang dari tempat yang mahatinggi.

Dunia yang hanyut oleh ketiadaan pengharapan, tersentak oleh pernyataan sorgawi: “Kemuliaan bagi Allah di tempat Mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya. Pernyataan ini membukakan harapan, bahwa bagi dunia yang hampa diberikan damai sejahtera. Damai sejahtera itu selain merupakan perwujudan kemuliaan Allah, juga merupakan penggenapan janji Allah, yaitu bahwa damai diberikan kepada umat yang memperkenankan hati-Nya. Mereka yang memperkenankan hati Allah adalah mereka yang menerima Dia, cahaya kemuliaan Allah, yang lahir di kandang hina.

Kemuliaan Allahlah yang mendatangkan damai sejahtera di bumi. Apakah kamu sudah menerima Sang Cahaya Kemuliaan Allah dalam hidup Anda?

Pada saat kelahiran Yesus, orang-orang Yahudi mengharapkan seorang raja yang akan membebaskan mereka dari penindasan dan mendirikan kerajaan duniawi. Tetapi apa yang mereka dapatkan dari kelahiran seorang anak, ternyata lebih dari sekedar bebas dari keadaan saat itu dan kejayaan pemerintahan yang sementara.

Sebagai gantinya, Tuhan menegakkan kerajaan-Nya yang kekal, membuka jalan bagi keselamatan, mendamaikan kita lewat hubungan yang benar dengan diri-Nya, dan membawa harapan ke dalam dunia yang rusak. Meskipun banyak orang Yahudi tidak sepenuhnya memahami atau menghargainya saat itu, tetapi Tuhan melakukan sesuatu yang jauh melampui ekspektasi kita.

Sebelum kedatangan Yesus, dunia diperbudak oleh dosa, dan umat Tuhan diharuskan untuk memberikan persembahan korban kepada-Nya sebagai penebusan. Meskipun hal ini merupakan sesuatu yang indah karena Tuhan memberikan anugerah kepada umat-Nya berdasarkan hukum Perjanjian Lama, tetapi secara luar biasa Dia mengutus Yesus, yang membebaskan kita dari perbudakan dosa dan merupakan korban penebusan yang penghabisan bagi kita.

Dalam 1 Timotius, Rasul Paulus menjabarkan dengan jelas betapa besarnya anugerah yang kita miliki didalam Yesus, Juruselamat kita: “Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: ‘Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,’ dan diantara mereka akulah yang paling berdosa.” Sebelum diselamatkan, Paulus menganiaya orang-orang Kristen, namun Tuhan mencurahkan kasih karunia-Nya yang luar biasa kepadanya, dan Tuhan bekerja melalui dia untuk menulis banyak kitab Perjanjian Baru dan menyebarkan injil ke dunia.

Yesus juga mengacu pada kasih karunia Tuhan yang luar biasa dalam perumpamaan Hamba yang Tidak Berbelas Kasihan, “Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.” Yesus melangkah lebih jauh, dengan menjelaskan bahwa keselamatan kita seharusnya membuat kita hidup penuh dengan pengampunan dan belas kasih kepada orang di sekitar kita. Yesus menekankan hal ini dalam Amanat Agung, di mana Dia menjelaskan bahwa keselamatan bukanlah sesuatu yang harus dirahasiakan, tetapi harus disebarluaskan dan dibagikan.

Pandemi covid yang berlangsung selama 2 tahun tidak mematahkan kita untuk terus berpengharapan dalam Allah yang memberikan kita hikmat untuk terus berjaga jaga dalam doa serta menjaga protocol kesehatan agar tidak meledak dalam mengurangi angka kesakitan dalam covid 19. Karena Iman membuat semua hal yang mungkin. Harapan membuat semua hal bekerja. Cinta membuat segala sesuatu menjadi indah. Semoga kita memiliki ketiganya sepanjang tahun ini.

Dalam peringatan Natal tahun 2021 dan Tahun Baru 1 Januari 2022 mari masuk ke dalam kebenaran yang luar biasa, bahwa melalui Yesus, kita telah menerima anugerah paling agung. Tidak peduli apa yang telah kita lakukan, di mana kita berada, atau bagaimana kita memandang diri kita—kita telah diampuni dan tidak lagi menanggung beban membayar dosa dan kegagalan kita. Kita dapat berjalan dengan percaya diri dan kelegaan karena mengetahui bahwa Yesus telah mematahkan belenggu dosa dan kematian dari hidup kita dan membebaskan kita dari hutang yang tidak mungkin dapat kita bayar.

Di dalam Dia, kita memperoleh harapan dan janji hidup kekal—sebuah anugerah yang patut kita rayakan. Kiranya damai dan kasih natal menyertai kita dan selamat tahun baru bagi kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *