May 19, 2024

Mengapa masih ada ?

0

Perjalanan satu minggu bersama sesak, tanya, air mata, kebimbangan, kebingungan sekaligus penyerahan. Keadaan di persimpangan jalan ini membuatku semakin merasa berada pada jalan abu-abu yang tak berujung. Walau aku tahu, ada yang sedang dibukakan dari relung hati dan pikiran ketika dengan jujur berbicara kepada Allah soal panggilan. Yang kalau diselidik semakin dalam, tenyata sangat banyak hal yang kulakukan dengan tidak maksimal dan sungguh-sungguh dalam perjalanan linimasaku, dengan segala kebaikan yang sudah IA berikan.

Apa kebutuhan manusia yang paling mendesak? Kebutuhan jasmani atau kebutuhan rohani?

Jangan tanya pendapatku, karena sampai kini, lidahku keluh untuk menjawab satu pertanyaan yang sering diucapkan banyak orang pada perziarahan imannya. Sebagai seseorang berlatar belakang pendidikan sosial, mereka menyatakan jawabannya adalah ‘kebutuhan jasmani’. Sebab, demikianlah fenomena sosial yang sedang dihadapi kala berhadapan dengan manusia. Banyak orang-orang yang tidak mampu mengisi perut mereka barang sekali makan sehari, banyak dari mereka yang kesulitan mencari puskesmas terdekat guna mendapat pertolongan pada kesehatan, jalan menuju desa tempat mereka tinggal jauh dari kota, pun juga akses pendidikan (walau tak yakin bahwa ini merata di setiap sudut kota yang pernah dilalui). Akses kesehatan, teman-teman berlatar belakang ilmu kesehatan mungkin bisa dengan jujur mengatakan bagaimana kondisi fasilitas kesehatan di daerah tempat teman-teman berada.

Kebutuhan jasmani apalagi yang sangat mendesak yang teman-teman lihat di daerah tempat teman tinggal?



Banyak ODGJ berkeliaran di kota ini. Apakah itu murni karena pikiran atau adakah ikatan dunia gelap di latar belakang hidupnya? Anak-anak terpaksa menjadi manusia silver dan melumuri diri dengan cat sablon dicampur minyak yang membakar kulit mereka dengan bahan yang berbahaya itu. Padahal yang dilakukan ialah mereka mengamen atau menjadi patung demi mengais rupiah. Tak jarang seorang ibu membawa anak kecil mereka dalam pangkuannya dan memohon belaskasihan dari orang-orang yang berlalu lalang di simpang-simpang lampu merah demi koin-koin di kota ini. Disetiap kota, lihatlah kita akan sangat mudah mendapatkan fenomena kesenjangan sosial.

Ya.., memang ada yang berani turut serta menolong mereka, tetapi tak banyak juga yang berani campur tangan langsung dengan mereka. Pun mungkin demikian, mereka yang mengaku diri seorang anak sosial, tapi mungkin juga sangat sulit bagi mereka untuk bertindak mengasihi mereka- dalam kadar hitungan mahluk sosial.

Lalu, apakah memang kebutuhan fisik yang menjadi kebutuhan mendesak orang-orang yang kita lihat bersileweran di kota tempat kita tinggal?

Bagaimana dengan kebutuhan rohani mereka, apakah itu juga sebuah kebutuhan mendesak dan penting yang juga seharusnya mereka dapatkan?


Pernahkah ada dalam pikiran kita, siapakah yang peduli kepada pekerja pabrik yang berkerja hingga larut, yang masih mempercayai Tuhan akan menyediakan segala kebutuhannya dan keluarganya? Sempat hal seperti ini terlintas dalam pikiranku.

Aku sadar, ada beberapa pertanyaan-pertanyaan tersulit dalam hidup yang bukan hanya menuntut sebuah jawaban, melainkan juga menuntut sebuah tindakan. Jika memang injil benar dan Allah benar-benar baik, lalu di manakah IA di tengah-tengah kemiskinan dan penderitaan yang eksterm ini? Demikian sebuah peperangan tanya di alam pikiran.

Ya. di mana IA? Mengapa seakan begitu banyak orang terlahir ke sebuah tempat yang tampak seperti neraka -di dunia- dan akan berlanjut berpindah ke tempat kekal itu setelahnya ketika mereka meninggal dunia?

Apasih yang menjadi harta yang utama manusia? Kitab Lukas 12:34 mengatakan ‘karena di mana hartamu berada, disitu juga hatimu berada.’ Apakah saat itu Yesus sedang menyuruh murid-muridNya mengorbankan harta dalam hidup mereka? Sesungguhnya ini sama sekali berlawanan dengan cara dunia ini berpikir. Yesus mendorong mereka (aku) untuk mencari harta yang utama dalam hidup mereka (hidupku). Yesus menasehati untuk hidup demi harta jangka panjang yang tidak akan pernah hilang dari hidup, bukan harta jangka pendek yang bisa disimpan. Sekali lagi, hal paradoks yang harus diimani oleh orang percaya.

Kita menginginkan sebuah kelegaan dan kenyamanan sekarang ini juga, tanpa kekhawatiran. Kadang kalapun ada fase di mana yang diinginkan ialah sebuah manfaat sebanyak-banyaknya dari kehidupan saat ini, kan? Tetapi entah mengapa, ada kejelasan yang tampak tentang pesan Yesus.

Sesungguhnya saat itu Yesus sedang menyuruh murid-muridNya untuk memberikan harta dalam dunia ini kepada mereka yang membutuhkan dengan suatu cara yang akan membawa kesenangan abadi dalam kerajaan surgawi. Apa itu? Coba tanya diri sejenak.

Ya…coba rehat sejenak. Kemudian lantunkan doa kepada Allah, agar IA menolong kita untuk melakukan apapun yang IA ingin lakukan dengan segala sesuatu yang telah Ia berikan kepada kita. Davit Platt pada bukunya “Something Needs To Change” (2022) banyak bercerita tentang pengalaman Platt tentang hal ini. Cara sederhananya menuliskan pengalaman menyusuri pendakian di Pengunungan Himalaya membuatku mampu rehat sejenak, berpikir, berdoa, merenung, lalu menuliskan catatan singkat, kemudian kembali membaca dengan bangunan imajinasi bersama Platt di Pendakian. Sebuah tulisan menceritakan, bahwa dibalik kebutuhan jasmani mendesak yang dibutuhkan oleh orang-orang, tenyata ada satu hal yang ingin Allah kita kerjakan di dunia ini. Lihatlah kebutuhan rohani orang-orang yang ada di sekitarmu. Lihat, doakan, lalu berikan apa yang mampu kamu lakukan dengan harta yang kamu miliki. Harta yang akan membawa mereka mengalami pengenalan akan Kristus. Dan tentunya, ini bukan hal yang mudah.

Dalam kitab Lukas 12:48 “……..Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, daripadanya akan lebih banyak lagi di tuntut.” Menjadi sebuah pengingat bagi mereka yang mengaku percaya yang sedang dalam masa-masa mencari jalan yang harus dilalui.

Mereka yang mengetahui kebenaran Injil dan akan hadirnya Allah dalam hidup, menjadikan ini sebagai pengingat ketika ada pertanyaan, mengapa ada yang berdiam diri dan tidak mengerjakan sesuatu dalam masa pencarian akan ladang misi?

Atau, pada masa rehat dan pencarian ini, coba untuk lebih peka dalam panggilan pekerjaan Tuhan, ketika hal ini akan menuntun kita pada sebuh jawab yang sering beputar bagai gasing di dalam kepala. Tanya seperti “Apakah yang harus kulakukan untuk memperluas kerajaanMu?” “Bagaimana aku harus melayani Engkau dengan apa yang ku miliki?”. Serta ragam tanya lainnya yang menunjukkan keseriusan kita tentang panggilan, di mana Allah ingin kita memenuhi kebutuhan rohani mereka yang belum pernah mendengar berita kabar baik.

Memang kita harus menyadari bahwa peperangan fisik akan kelaparan, kemiskinan, hingga sakit penyakit di dalam kota kita melayani merupakan masalah yang masih belum besar jika dibandingkan dengan peperangan rohani bagi hati dan pikiran orang-orang yang belum mengenal Allah. Ketika menyadari ini dengan sungguh, ternyata menjadi risiko yang luar biasa ketika mengikut Yesus dalam hidup bila dengan tidak sungguh-sungguh. Maka, ketika sedang bergumul akan panggilan, hiduplah dalam hubungan pribadi bersama Tuhan dengan sungguh. Ketika Allah sudah memberi konfirmasi-konfirmasi atas panggilanNya yang harus dikerjakan, maka lakukanlah, tidak dengan setengah-setengah.

Sebab, ketika banyak hal yang di percayakan Allah untuk kita, maka, Ya…benar akan banyak hal juga yang akan di tuntut pada kita.

Bagiku, dalam fase-fase pencarian pekerjaan, ini adalah masa yang cukup berat melangkah. Ada takut yang menyapa, kekhawatiran yang datang, gelisah yang entah kapan selesai. Tanya pada Allah tentang ladang misi yang harus digarap sering menjadi kekhawatiran tersendiri bagiku. Bagaimana bila… bagaimana jika…sendainya saja, dan ragam penyesalan lainnya yang takutnya akan diserukan pada Bapa bila nanti realita yang dihadapi akan sangat berat. Sungguh, akupun terkadang juga takut, kalau-kalau ternyata di masa-masa persimpangan jalan ini, ternyata Allah sudah bukakan satu jalan yang harus ku lalui. Namun, hati dan pikiranku yang entah mengapa sangat sulit meresponi akan panggilan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *