June 13, 2024

Hukuman dan Pemeliharaan Allah

0

by Hasudungan Limbong( Alumni KMK FT USU)

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. (Mazmur 23:4)

 

Kalau kita membaca Kitab Suci mulai dari kitab Kejadian, pemeliharaan Allah tidak pernah terlepas dari tindakan pendisiplinan. Sebut saja sejak dari kejatuhan Adam dan Hawa kedalam dosa, pendisiplinan dan pemeliharan Allah dapat kita saksikan sebagaimana Kej 3:16 (Hawa) dan Kej. 3:17-19 (Adam) dan banyak contoh-contoh dalam kitab Pentateukh. Kesempatan ini kita belajar dari penghayatan Daud sebagaimana Kitab Suci dalam Mazmur 23:4

 

Sekalipun Aku Berjalan Dalam Lembah Kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku (23:4a)

Saya pernah pergi ke perbukitan untuk merencanakan pengadaan tempat padang rumput pengembalaan hewan. Hal tersulit adalah  mendapatkan sumber air atau sungai kecil mengalir yang terletak jauh dibawah perbukitan. Tidak mudah menjangkaunya, penuh resiko karena jalan yang sangat terjal, ada jurang, jalan sempit, semak belukar dan kemungkinan binatang buas. Daerah perbukitan dan pegunungan ini mengingatkan kita akan situasi sebagaimana yang digambarkan pada perumpamaan Tuhan Yesus tentang domba yang hilang (Mat 18:12-13). Itulah sebabnya kita memahami bagaimana sulitnya perjalanan gembala bersama kawanan domba; dari kandang menuju padang rumput di bukit, dari bukit mencari sumber air di lembah, di dasar bukit, lalu kembali lagi ke kandang. Perjalanan naik turun bukit, menyusuri padang, semak belukar, hutan, melalui jalan yang sempit dilereng bukit. Daud tidak mengatakan bahwa peristiwa berjalan dalam lembah kekelaman itu adalah suatu bayangan tentang berjalan dalam lembah kekelaman, ini adalah persitiwa yang terjadi yang dialaminya bersama kawanan domba, bahkan berulang-ulang. Bukan saja berulang-ulang, tetapi perjalanan didalam lembah yang sangat menakutkan yang dia sebut sebagai lembah kekelaman. Meskipun ini perjalanan yang berulangkai mereka jalani, namun kengerian yang dirasakan dalam perjalanan seperti ini tidaklah berkurang.

Tidak hanya itu, selain jalan itu curam dan gelap, ukuran jalan itu sangat kecil. Jalan yang dimaksud dalam Mazmur Daud ini adalah jalan sempit, jalan setapak yang hanya bisa dilalui secara beriringan. Inilah jalan yang harus dilalui, dan inilah jalan yang benar itu (ayat 3). Gembala akan selalu mencari jalan yang dapat ditanggung oleh setiap domba. Dia tidak akan bermain main dengan kawanan yang dia kasihi. Sang Gembala mengerti perjalanan ini akan menguras kekuatan kawanan domba-Nya. Oleh karena itu perjalanan yang penuh bahaya dan mengerikan ini harus diberi perhatian khusus oleh Sang Gembala. Domba bukanlah hewan yang lincah dan cekatan. Sang Gembala mengerti bahwa domba dapat dengan mudah tergelincir bahkan jatuh ke jurang di jalan yang sempit dan curam, bahkan binatang buas sewaktu-waktu dapat mengancam hidup mereka. Gembala akan lebih banyak berpindah-pindah. Ada kalanya berada di depan kawanan, sesekali ke tengah, atau kadang berpindah ke belakang membantu domba yang mengalami kesulitan di belakang. Betapa sibuk dan lelahnya Sang Gembala. Sesudah semua tampak aman, ia akan kembali pindah ke depan untuk menuntun kawanan. Perjalanan sulit itu justru dipenuhi ‘percakapan’ antara Sang Gembala dan domba-domba, perjalanan ini pastilah sangat berbahaya bagi domba-domba, itulah sebabnya Gembala memperingatkan kawanan agar tetap berjalan hati-hati, dan tidak segan-segan menegur domba tertentu yang mulai menyimpang.

Rasa takut yang besar berjalan di dalam lembah kekelaman itu sirna, karena memang Gembala selalu hadir dan tidak pernah gagal memelihara kawanannya. Seberapa sukarpun, Gembala akan selalu siap, sigap, kuat dan sangat lincah menjaga kawanan domba. Bahaya akan selalu mengancam ketika kawanan melewati lembah itu lagi, namun “Aku tidak takut kepada bahaya apapun sebab Engkau besertaku”

 

Gada-Mu dan Tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku (23:4b)

Dalam mengawal kawanan domba itu, Gembala bukan saja menggunakan suara tetapi menggunakan alat bantu gada dan tongkat. Gada disini berarti batang kayu, tongkat pemukul, tongkat. Untuk seorang gembala, gada memiliki fungsi untuk memukul dan menghukum. Dalam perjalanan menuntun kawanan domba, terutama dalam perjalanan yang sulit dan berbahaya, ada domba-domba tertentu yang mungkin akan menyimpang; bisa saja tidak mau melanjutkan perjalanan, mungkin juga karena takut. Pada waktu itulah Gembala menggunakan ‘gada’ untuk memukul dan menghukum domba tersebut. Pada kondisi tertentu, seekor domba memang perlu dipukul agar mau meneruskan perjalanan bersama kawanan.

Selain gada, Gembala juga membawa tongkat, tongkat disini lebih merujuk kepada penopang, tongkat penopang, yang digunakan untuk menopang. Gembala seringkali membawanya ketika mereka berjalan untuk menopang demi menjaga keseimbangan tubuh ketika melewati medan yang sulit atau jalan yang sempit. Gembala berjalan dengan kedua benda itu ditangannya. Tongkat disalah satu tangan digunakan untuk menopang tubuh ketika berjalan, gada ditangan lain digunakan untuk memukul atau menghukum domba dalam situasi tertentu.

Dalam penghayatan Daud, gada-Mu dan tongkat-Mu itulah yang menghibur Daud. Kita perhatikan: ‘itulah’. Bagaimanakah kita menghayati itulah (gada dan tongkat) yang digunakan  dapat menghibur kawanan domba? Untuk zaman ini, tentu hal itu tidak biasa. Dapatkah sesuatu yang dipakai untuk menghukum, menuntun, mengarahkan dan mendorong kawanan domba  justru dapat memberi atau menjadi sumber penghiburan? Daud memilih kata yang sangat menarik dan Indah. Daud menghayati semua hukuman, tuntunan, arahan dan dorongan dalam persfektif yang sama sekali berbeda. Sang Gembala pemilik kawanan domba itu melakukan yang terbaik baik bagi kawanan; mengasihi mereka, berjuang keras bagi keselamatan mereka, bahkan rela mengorbankan hidup bagi kawanan domba. Daud tidak melihat suatu hukuman sebagai motivasi lain selain kasih yang besar dari Sang Gembala.

Bagi Daud, Engkau memukul karena alasan yang jelas, memberi hukuman pada waktu yang tepat. Engkau mengasihi kawanan domba, Engkau mengusahakan keselamatan kami dengan sekuat tenaga. Kami menikmatinya sepanjang perjalanan. Itulah sebabnya domba tidak pernah mengeluh mengalami gada-Mu dan tongkat-Mu, justru itulah yang menghibur aku, itulah yang membuat aku sadar bahwa aku sudah menyimpang dan aku harus kembali kepada kawanan dan mengikuti suara-Mu yang menuntun jalanku.

Bagaimana dengan diriku? Apakah aku mampu mengatakan gada-Mu dan tongkat-Mu itulah yang menghibur aku? Apakah aku mengerti bahwa gada-Mu dan tongkat-Mu semata-mata alat untuk mendidik aku? Apakah aku mengerti Gada-Mu dan Tongkat-Mu digunakan oleh Gembala karena mengasihku, yang tujuannya semata-mata menuntunku di jalan-Mu dan menikmati kasih-Mu? Ketika aku sadar hal itu, aku sangat terhibur. Ketika aku merasakan gada-Mu dan tongkat-Mu, hal itu berarti bahwa Engkau masih besertaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *