May 19, 2024

Heavenly Peace in The Catastrophe Time

0

Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.
Lukas 2:11

Lagu “Malam Kudus” adalah lagu natal yang paling dikenal dan dinyanyikan oleh banyak orang di seluruh dunia ketika merayakan Natal. Lirik lagu ini sudah ditulis pada tahun 1816 oleh Pastor Joseph Mohr tetapi baru dibuat melodinya dan  dinyanyikan pada tahun 1818. Lagu yang ditulis dalam bahasa Jerman dengan judul Stille Nacht ini telah diterjemahkan ke dalam lebih 300 bahasa serta menjadi salah satu Warisan karya Musik yang diakui oleh UNESCO.  Memang Lagu “Malam Kudus” ini mempunyai lirik dan melodi yang begitu indah dan mendatangkan suasana damai yang menyelimuti batin setiap kali dinyanyikan atau didengar. Pejamkanlah mata Anda, dan dengarkanlah lagu ini diputar atau dinyanyikan, saya percaya, Anda akan merasakan suasana hati yang penuh damai yang transenden.

Menjadi hal yang luar biasa kalau kita memahami bahwa lagu ini ditulis dalam situasi bangsa-bangsa di Eropa sedang mengalami   musim dingin yang ekstrim yang menyebabkan panen tidak berhasil, makanan menjadi sangat langka, kelaparan dan penyakit terjadi di mana-mana. Demikian juga terjadi peperangan melawan Napoleon yang menghancurkan baik infrastruktur, pendidikan, ekonomi, pertanian dan tanah mereka. Jadi kesimpulannya lagu Malam Kudus yang menggambarkan kedamaian bukanlah lahir di tengah-tengah kenyamanan, kemakmuran, kesehatan, dan keadaan yang baik dan sejahtera, tetapi justru keluar dan diciptakan dari keadaan yang dilanda kehancuran, kegagalan, ancaman kelaparan, dan sakit penyakit.

Kembali ke lirik lagu, saya percaya bahwa Joseph Morr sebagai seorang rohaniawan pasti tahu bahwa sebenarnya kisah Natal yang pertama, juga bukanlah terjadi di dalam suasana yang indah dan nyaman. Yusuf dan Maria adalah pasangan muda yang sedang melakukan perjalanan jauh dan tidak mempunyai tempat untuk istirahat, Maria seorang gadis yang tiba-tiba mengandung dan harus menerima resiko bukan hanya diejek dan dicela tetapi bisa dirajam. Yusuf yang masih muda juga sempat merasa gamang karena situasi kehamilan Maria dan bermaksud menceraikan dia secara diam-diam. Tetapi sesudah malaikat menyampaikan pesan singkat mengenai maksud dan tujuan kelahiran Yesus, baik Yusuf dan Maria, tunduk dan taat dan bersedia berkorban untuk anugerah yang istimewa bukan hanya bagi mereka tetapi juga bagi dunia.

 

Joseph Mohr mengambarkan kelahiran Yesus dengan suasana yang tenang dan sunyi, tetapi dengan pancaran suasana yang kudus. Dan fokus utamanya, ada pada Sang bayi Kudus, yang penuh kelembutan dan ketenangan, bahkan tidur dalam kedamaian surgawi walaupun Sang bayi yang dibalut lampin sederhana sedang terbaring di atas palungan, tempat minum ternak di kandang. Sang bayi tertidur nyaman dipandang oleh mata yang polos dari hewan-hewan ternak, oleh mata yang penuh keheranan dan takjub dari gembala-gembala dengan baju yang sederhana, serta diterangi cahaya bintang-bintang di langit.

Silent night! Holy night!

All is calm, all is bright

Round yon virgin mother and child!

Holy infant, so tender and mild,

Sleep in heavenly peace!

Sleep in heavenly peace!

 

Silent night! Holy night!

Shepherds quake at the sight!

Glories stream from heaven afar,

Heavenly hosts sing Alleluia!

Christ the Saviour is born!

Christ the Saviour is born!

 

Silent night! Holy night!

Son of God, love’s pure light

Radiant beams from thy holy face

With the dawn of redeeming grace,

Jesus, Lord, at thy birth!

Jesus, Lord, at thy birth!

Joseph Mohr kemudian melanjutkan bait-bait lagunya dengan menyatakan dengan jelas siapa bayi yang terbaring lembut di palungan itu, Dia adalah Kristus, Sang Juruselamat (Christ, the Saviour), Dia adalah Yesus, Tuhan Allah sendiri (Jesus, Lord). Malaikat membuat koor yang paling akbar dan menyanyikan lagu  Haleluya dari sorga memuji-muji Kristus Sang Juruselamat dunia. Wow, luar biasa pernyataan dari Joseph Mohr, bayi kecil itu adalah Tuhan dan Juruselamat dunia. Inilah keajaiban Natal.

Mari kita menarik beberapa pelajaran dari peristiwa Natal, makna dan latar belakang penulisan lagu “Malam Kudus” serta peristiwa Pandemik sekarang ini:

  1. Heavenly Peace. Kedamaian itu selalu berada terletak di dalam batin manusia bukan sesuatu yang didapat dari luar batin manusia. Tidak ada sesuatu kenikmatan dan kesukaan diluar batin kita yang dapat benar-benar memuaskan kita dan memberikan kedamaian dan sukacita sejati. Sebaliknya tidak ada peristiwa dan keadaan di luar yang bagaimana pun sulit, berantakan, menyedihkan, mengerikan dan menakutkan yang dapat merampas kedamaian di dalam batin kita. Pandemik ini dapat kita lewati dalam kemenangan jikalau kita ada memiliki damai dalam batin kita. Persoalannya batin kita sendiri adalah tempat yang paling gaduh dan bergolak. Kedamaian memang ada di dalam batin, tetapi tidak dapat diciptakan oleh manusia itu sendiri, Damai surgawi itulah yang kita perlukan. Yesus lah Sang Raja Damai itu sendiri.
  2.   Jesus Christ is Lord and Savior.  Pandemik dan bencana lainnya serta pergumulan sering membuat kita makin tertekan dan takut serta jauh dari damai dan sukacita karena kita meletakkan eksistensi diri kita, gereja kita, bangsa kita, manusia dan alam semesta ini, seolah-olah tergantung pada diri kita yang kecil ini. Kita tidak sadar bahwa kita hanya lah ciptaan yang terbatas bukan Pencipta yang Mahakuasa. Kita bukan selama-lamanya hidup di muka bumi ini, hanya Dia Sang Hidup dan Sang Kekal. Kita ingin menggenggam dunia ini dalam tangan kita dan mengatur yang diluar kekuatan kita, akhirnya kita terjebak tanpa sadar dalam narsisme manusiawi kita. Natal, kelahiran Kristus, sebaliknya adalah terobosan dari yang Maha hikmat menjadi seorang bayi yang belajar untuk mengeja kalimat-kalimat sederhana, Yang Mahakuasa menjadi yang dibatasi ruang dan waktu, Yang maha kudus hadir dalam tubuh manusiawi yang digerakkan oleh indera. Hanya kalau kita dengan iman, keluar dari cengkraman eksistensi manusia kita, kepada Dia Sang Penguasa dan Juruselamat Sejati, maka kita akan terbebas secara total bukan hanya parsial. Ketika kita menjadikan diri kita sebagai “Tuhan” maka kita akan menanggung beban yang tidak teratasi, tetapi kalau kita menjadikan Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan kita, maka kita akan mengalami kemerdekaan yang sejati.
  3. Redeeming Grace. Allah yang penuh kasih (love’s pure light) dan Mahakudus (holy face) diwujudkan dalam anugerah yang menebus (redeeming grace). Anugerah yang menebus ini akan memberikan pengampunan sekaligus hidup yang baru di dalam Dia. Anugerah yang menebus inilah harapan dan jawaban bagi dunia yang semakin jauh dari kebenaran serta makin rusak oleh karena dosa. Pendidikan yang baik diperlukan oleh manusia, budaya dan peradaban yang lebih maju adalah perjuangan kita, perekonomian dan politik adalah penataan kehidupan bersama untuk kesejahteraan bersama, beragama membuat orang dicegah dan direm dari melakukan hal yang jahat. Tetapi kebahagiaan sejati hanya kalau kita berbalik kepada Tuhan Pencipta, Damai sejahtera yang sejati hanya akan diisi oleh Raja Damai. Untuk itulah manusia memerlukan anugerah penebusan yang hanya adalah dalam Kristus. Itulah esensi Natal. Sudahkah kita menerimanya? Sudahkah kita memilikinya? Sudahkah kita membagikannya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *