June 13, 2024

Disciple: Be One, Make One

0

Pemuridan, sebuah proses penting dalam kehidupan seorang Kristen yang bertujuan untuk membentuk karakter yang semakin mirip Kristus. Konsep “Be one, make one” merupakan panggilan yang mendalam bagi setiap murid Kristus untuk tidak hanya menjadi lebih serupa dengan Kristus tetapi juga untuk memuridkan orang lain. Melalui perjalanan hidup Rasul Paulus yang luar biasa, kita dapat memetik banyak pelajaran berharga tentang bagaimana menjadi murid Kristus yang sejati dan berdampak bagi orang lain.

Perjalanan Hidup Rasul Paulus sebagai Murid Kristus

Awal perjalanan Paulus sebagai murid (Kisah Pemanggilan Paulus)

Ketika membicarakan pemuridan, sulit untuk tidak menyebutkan perjalanan hidup Rasul Paulus. Sebelum menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah gereja, Paulus, yang saat itu dikenal sebagai Saulus, adalah seorang penganiaya orang Kristen yang keras. Namun, segalanya berubah ketika ia mengalami pengalaman yang mengubah hidupnya di jalan ke Damsyik. Dalam kisah pemanggilan Paulus, kita melihat bagaimana sebuah pertemuan langsung dengan Kristus dapat mengubah hati dan pikiran seseorang secara drastis (Kisah Para Rasul 9:1-19). Pengalaman itu tidak hanya merubah orientasi agamanya, tetapi juga mengubah seluruh identitasnya. Saulus, sang penganiaya, berubah menjadi Paulus, sang rasul.

Pentingnya peristiwa ini adalah bukan hanya perubahan status sosial Paulus dari penindas menjadi pengikut, tetapi juga perubahan batiniah yang mendalam. Dalam pertemuan itu, Paulus mengalami pertobatan yang radikal, yang menjadi awal dari proses pemuridan yang berkelanjutan. Dari sini, ia belajar arti sejati dari kasih karunia dan belas kasihan Allah, yang kemudian menjadi pondasi bagi pelayanan dan pemuridannya.

Penting untuk dicatat bahwa proses pemuridan Paulus tidak dimulai setelah pengalaman tersebut, tetapi malah dimulai bersamaan dengan pengalaman itu. Tuhan mengutus Ananias untuk memuridkan Paulus, menunjukkan bahwa pemuridan bukanlah proses yang dilakukan secara individual, tetapi melalui bantuan dan pengajaran dari sesama murid Kristus (Kisah Para Rasul 9:10-19).

Pembentukan karakter Paulus sebagai murid Kristus

Paulus menulis kepada jemaat di Filipi dengan suatu semangat yang sungguh-sungguh tentang kerinduannya untuk mengenal Kristus lebih dalam. Baginya, segala hal yang ia miliki sebelumnya dianggap sebagai kerugian demi Kristus. Ini adalah panggilan yang sangat dalam untuk meninggalkan identitas lama dan mencari identitas yang baru dalam Kristus. Pembentukan karakter sebagai murid Kristus bukanlah proses yang selesai dalam sekejap mata, tetapi merupakan perjalanan yang berkelanjutan, yang membutuhkan kesetiaan dan keteguhan hati. Paulus menekankan bahwa pemuridan melibatkan penolakan terhadap nilai-nilai dunia dan pemusatan perhatian sepenuhnya pada Kristus (Filipi 3:7-14).

Pelayanan Paulus dalam memuridkan orang lain

Salah satu aspek penting dari pemuridan adalah kemampuan untuk memuridkan orang lain. Paulus menjadi teladan yang luar biasa dalam hal ini. Dalam suratnya kepada Timotius, ia menegaskan pentingnya melanjutkan apa yang telah dipelajari kepada orang lain yang dapat dipercaya untuk kemudian mereka ajarkan kepada orang lain lagi (2 Timotius 2:2). Ini adalah prinsip dasar dari “Be one, make one” di mana setiap murid Kristus dipanggil untuk tidak hanya menjadi serupa dengan Kristus tetapi juga untuk mengajarkan hal itu kepada orang lain.

“Be one, make one” dalam Konteks Era Milenial

Tantangan-tantangan bagi murid Kristus saat ini

Pengaruh media sosial dan budaya konsumerisme. Era digital membawa tantangan baru bagi pemuridan. Media sosial sering kali menjadi sumber perbandingan yang merusak dan dapat mengaburkan pemahaman akan nilai-nilai Kerajaan Allah. Alkitab memperingatkan kita untuk tidak mencintai dunia atau apa pun di dalamnya, karena semuanya itu bukan dari Bapa (1 Yohanes 2:15-17).

Kesibukan dan tekanan dalam kehidupan modern. Kehidupan yang sibuk sering membuat sulit bagi orang Kristen untuk fokus pada pemuridan. Namun, Kristus menyerukan agar kita mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya terlebih dahulu, dan Dia akan menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan (Matius 6:33-34).

Sikap individualisme dan egosentris. Budaya milenial sering mendorong sikap individualisme dan egosentris, yang bertentangan dengan ajaran Kristus tentang kasih dan pelayanan kepada sesama. Paulus menegaskan pentingnya untuk tidak hanya memperhatikan kepentingan sendiri tetapi juga kepentingan orang lain (Filipi 2:3-4).

Solusi “Be one, make one” dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut

Menjadi satu dalam Kristus. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus menggambarkan gereja sebagai tubuh Kristus yang terdiri dari banyak anggota yang berbeda tetapi saling terhubung sebagai satu kesatuan (1 Korintus 12:12-13). Ini mengajarkan kita untuk hidup dalam persatuan sebagai tubuh Kristus, tidak terpengaruh oleh perbedaan-perbedaan yang ada di dunia.

Mengasihi sesama dan memuridkan orang lain. Kristus menegaskan pentingnya mengasihi sesama sebagai tanda bahwa kita adalah murid-Nya (Yohanes 13:34-35). Kita perlu terus menggelorakan panggilan Kristus untuk menjadi satu dalam-Nya. Menjadi satu dalam Kristus berarti mengutamakan hubungan dengan-Nya dan dengan sesama. Ini melibatkan pengorbanan, kerendahan hati, dan kesediaan untuk membagikan iman kita kepada orang lain. Dengan mengasihi sesama dan memuridkan orang lain, kita dapat menjadi terang dunia dalam era milenial yang gelap.

Melalui perjalanan hidup Rasul Paulus, kita belajar bahwa menjadi murid Kristus bukanlah sesuatu yang instan, tetapi merupakan proses yang membutuhkan ketekunan, kerendahan hati, dan keterlibatan aktif dalam pelayanan, kita belajar bahwa pemuridan melibatkan transformasi karakter yang mendalam, komitmen untuk memuridkan orang lain, dan kemampuan untuk mengatasi tantangan zaman kita. Dalam konteks era milenial yang penuh dengan tantangan, panggilan untuk “Be one, make one” semakin relevan dan mendesak. Dengan terus mengingat janji penyertaan-Nya dalam Amanat Agung, marilah kita bersama-sama menjalani kehidupan sebagai murid Kristus yang sejati, siap memuridkan orang lain, dan menjadi terang dunia yang gelap. 

Oleh: Benyaris Pardosi (Fhut’05)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *