April 14, 2024

Daya Tahan Ekonomi

0

By Marolop Nainggolan (Alumni FEB USU)

Pada tahun ini, ekonomi diseluruh dunia termasuk Indonesia dikejutkan dengan wabah virus Corona yang diberi nama Covid-19 (Coronavirus Disease 2019) . Berbicara mengenai wabah virus, sebenarnya bukan kali ini saja, pada tahun 2002 muncul wabah virus dinamakan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan pada tahun 2012 muncul wabah virus bernama MERS (Middle-East Respiratory Syndrome), namun eskalasi SARS dan MERS tidak sebesar Covid-19. Saking besarnya, Covid-19 dikategorikan Pandemi Global oleh WHO.

Status Pandemi ini,mengakibatkan keluarnya kebijakan pembatasan (Lockdown, Karantiona, PSBB dll) oleh semua negara yang terkena wabah ini. Karena penyebarannya melalui manuasia, maka dengan membatasi ruang gerak manusianya, rantai penyebaran bisa diputus. Kondisi pembatasan inilah yang membuat kegiatan/aktivitas ekonomi masyarakat terhenti. Sejumlah pusat perbelanjaan dan pertokoan banyak yang ditutup sementara. Meskipun ada yang bertahan untuk tetap buka,namun menurunnya jumlah pengunjung secarar drastis, mau tidak mau mengkondisikan pilihan untuk menutup, menjadi keharusan dengan pertimbangan menghindari potensi kerugian yang lebih besar. Jadi dengan adanya kebijakan pembatasan ini, pendapatan turun drastis atau bahkan ada yang hilang, bahkan tidak sedikit karyawan yang memilki gaji tetap pun, juga mengalami pemotongan gaji, imbas kondisi keuangan perusahaan yang terdampak dari Pandemi Covid-19. Terlebih untuk masyarakat yang pendapatannya bersifat harian atau mingguan, sudah pasti kemampuan konsumsi untuk kebutuhan harian, langsung terganggu, bahkan hilang saat ada kondisi seperti PSBB. Semakin lama PSBB ini berlangsung, semakin lama aktivitas ekonomi terhenti, semakin dalam dampak ekonominya, maka tentu semakin lama proses pemulihannya.

Lihat saja Tiongkok sebagai negara yang pertama kali menerapkan lokcdown (23 Januari – 8 April) sebagai langkah untuk mengatasi penyebaran virus ini , ekonominya di kuartal I (Januari – Maret) turun -6,8%. Padahal kuartal I tahun 2019 ekonomi mereka masih tumbuh +6,5%. Tidak hanya Tiongkok , negara-negara Eropa yang juga memberlakukan pembatasan aktivitas berupa lockdown juga mengalami dampak yang sama, ekonominya di kuartal I turun -3,3% (bandingkan kuartal I 2019 tumbuh +1,2%). Hal yang sama (penurunan ekonomi) juga terjadi di hampir semua negara yang memberlakukan lockdown, karantina atau bentuk pembatasan lainnya sebagai upaya untuk menekan/mengurangi penyebabaran virus tersebut.

Kebijakan PSBB yang diberlakukan pemerintah kita dan merupakanyang pertama dalam sejarah,  telah “memukul” ekonomi cukup dalam. Bahkan bisa dikatakan banyak yang tidak siap ekonominya,dalam menghadapi masa PSBB tersebut.Perusahaan-perusahaan yang tidak kuat daya tahan(keuangan)nya terpaksa memilih merumahkan karyawan, atau melakukan PHK bahkan tidak sedikit yang menutup perusahaannya atau bangkrut.Pendapatan terhenti tapi biaya tetap jalan, inilah permasalahan utama saat ini, baik bagi ekonomi perusahaan maupun ekonomi rumah tangga/individu. Dalam situasi seperti ini, kondisi daya tahan ekonomi menjadi kunci untuk bisa melewatinya. Daya tahan disini adalah daya tahan untuk bisa mempertahankan konsumsi (hidup)di saat pendapatan mengalami ganguan. Itulah mengapa semua negara punya formula yang sama dalam setiap kondisi krisis ekonomi yaitu melakukan stimulus atau menggelontorkan dana untuk mempertahankan (meningkatkan) konsumsi masyarakatnya. Semakin banyak masyarakat kita yang terdampak (memiliki daya tahan yang lemah), semakin besar dana stimulus pemerintah yang akan digelontorkan dan karena kita menggunakan pinjaman untuk pendanaan stimulus, maka semakin meningkat pula utang pemerintah kita.

Dalam formula ekonomi Y = C + S, penggunaan pendapatan (Y) yang kita peroleh, ditujukan untuk konsumsi (C) dan tabungan (S). Atau kalau dalam ekonomi perusahaan, tabungan (S) diganti menjadi Investasi (I). Tabungan (S) inilah yang menjadi daya tahan ekonomi, akumulasi yang terjadi pada pos tabungan akan menjadi buffer untuk mempertahankan konsumsi (C) dikala pendapatan (Y) terganggu. Seberapa kuat kita bisa mempertahankan konsumsi saat pendapatan kita terganggu, tergantung seberapa besar tabungan yang kita miliki. Kembali pada formula ekonomi Y = C + S , jadi untuk menghasilkan tabungan (S), maka konsumsiwajib lebih kecil dari pendapatan (C < Y). Sehingga, ketika kita akan melakukan akumulasi pada pos tabungan (S) maka yang kita akumulasi adalah tindakan C<Y.  

Prilaku menabung di masyarakat kita masih sangat rendah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan rata-rata rasio tabungan rumah tangga Indonesia terhadap total pendapatan masih diangka 8,5% bahkan untuk masyarakat yang berpenghasilan rendah hanya sebesar 5,2%. Terlihat daya tahan ekonomi rumah tangga/individu masyarakat Indonesia masih sangat rentan, lihat saja bagaimana urgensi pemerintah dalam melakukan program bantuan langsung tunai dalam setiap krisis yang terjadi, yang menunjukan bagaimana kondisi masyarakat kita sangat rentan terhadap kondisi krisis, kemampuan konsumsi untuk kebutuhan pokok harian, langsung terganggu bahkan hilang saat ada kondisi seperti PSBB. 

Dalam perjanjian lama, pada kisah Yusuf dan Firaun di kejadian pasal 41, sangat jelas bagaimana Tuhan mengarahkan untuk menyisihkan (memungut seperlima), mengumpulkan dan menyimpan untuk menjadi persedian kedepan. Hal yang sama, berbicara “menyimpan untuk persedian” juga menjadi kesimpulan dari Amsal kepada kita saat kita diminta untuk belajar dari semut.Krisis Ekonomi yang disebabkan Covid-19 ini menjadi pembelajaran bagi kita, akan pentingnya menyiapkan daya tahan ekonomi (menabung). Bagi yang belum atau yang sudah namun belum maksimal, mungkin saatnya kita merekontruksi kembali pengelolaan keuangan kita, dengan disiplin menyisihkan sebagian dari pendapatan kita, untuk disimpan, sehingga menjadi persedian jikalau terjadi gangguan pada pendapatan kita kedepan.

Seberapa besar tabungan yang harus kita siapkan, agar kita memiliki daya tahan ekonomi yang baik? Untuk porsinya memang tidak ada patokan pastinya, namun dalam modul financial planing dari FPSB (Financial Planning Standards Board) Indonesia, mengajarkan bahwa setiap individu harus punya dana darurat untuk hal-hal yg tidak terduga, yang jumahnya sebesar 3-6 bulan biaya hidup. Dan lebih besar lagi bila memiliki tanggungan (anak). Dalam modul tersebut disebutkan juga,berasuransi sebagai upaya membentuk daya tahan ekonomi.Hal-hal tersebut bisa menjadi acuan dalam membentuk daya tahan ekonomi kita.

Semakin banyak dana tabungan masyarakat suatu negara, maka sudah pasti semakin kuat ekonomi negara tersebut. Karena, membesarnya dana tabungan masyarakat, membuat ketergantungan pemerintah terhadap dana dari luar (asing) untuk pembiayaan pembangunan ekonomi semakin rendah, dengan begitu kemandirian ekonomi bisa semakin kuat. Jadi selain sebagai daya tahan bagi ekonomi kita pribadi, tabungan kita juga berkontribusi besar terhadap daya tahan ekonomi bangsa kita.

Tentu menabung tidaklah sulit, kalau ada dananya. Namun yang sulit adalah merealisasikan agar besaran konsumsi kita lebih kecil dari pendapatan secara disiplin, sehingga ada dana untuk ditabung. Untuk itu kelolalah keuangan (Perencanaan Keuangan) kita dengan baik, sebagai bentuk tanggung jawab kita kepada Tuhan, atas pendapatan atau gaji yang dipercayakannya kepada kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *