June 13, 2024

Contagious Movement

0

Dalam zaman yang berubah begitu cepat, banyak orang menjadi gagap. Sebagian orang masih hidup dengan tenang dalam romantisme kehidupan masa lalu. Sementara yang lain sedang berbenah diri menghadapi perubahan meski selalu terlambat. Kita tahu pandemi yang terjadi belakangan ini memaksa orang secara personal maupun komunal untuk siaga dan cepat tanggap, sebab Virus Corona tidak hanya menggertak.
Dari berbagai komunitas gereja di media sosial yang berdiskusi hangat dan panas terkait arahan pemerintah #dirumahaja, jujur saya sempat merasa gelisah. Kenapa? Karena sejumlah gereja tampaknya terlalu lambat untuk bertindak. #dirumahaja membuat gereja gagap karena tidak terbiasa untuk beribadah secara virtual. Dalam artikel ini, saya menyebut gereja sebagai terminologi bagi orang yang percaya dalam Yesus Kristus. Bukan gedung gereja, denominasi gereja, apalagi pimpinan gereja.

Kegelisahan saya segera sirna setelah membaca artikel miliknya Deanna A. Thompson dalam judul Christ is Really Present Virtually: A Proposal for Virtual Communion. Deanna, sebagai seorang teolog yang juga penulis buku The Virtual Body of Christ in a Suffering World mengaku bahwa dirinya termasuk orang yang digital sceptic. Artinya, ia meragukan bahwa keterhubungan secara virtual dapat membawa hubungan yang bermakna di antara manusia. Sayangnya, keraguan itu baru hilang setelah ia terbaring di rumah sakit akibat kanker.

Sembari anda membaca dan menuliskan poin-poin yang dapat diperdebatkan, saya akan segera mengangkat wacana: apakah gereja sudah siap untuk menggereja secara virtual? Anda mungkin menjawab: “Oh, gereja kami dari dulu sudah live streaming kok.” Kalau demikian yang menjadi jawaban anda, saya tidak memaksa anda untuk menghabiskan waktu membaca artikel ini.

Apakah gereja sudah siap melakukan perjamuan kudus secara virtual? Apakah gereja sudah siap melakukan pemberkatan nikah secara virtual? Mengapa Deanna tadi akhirnya mengubah cara pandangnya mengenai keterhubungan virtual? Karena justru keterhubungan secara virtual media penolongnya saat ia dikarantina akibat kanker yang dideritanya. Mendengar kisahnya, kita akan segera mengingat banyak korban Corona yang tergeletak dan terkarantina. Jelas, mereka membutuhkan pelayanan . Tidak hanya dari pendeta, tapi jemaat, dan juga sanak-saudara. Bagaimana melayani orang terkarantina dengan bijaksana tanpa perlu memaksa diri bertatap-muka jika teknologi dapat memfasilitasinya? Menggereja-lah secara virtual hari ini, bukan nanti!

Ada dua pertanyaan besar bagi orang yang masih canggung dengan gereja secara virtual. Pertama, apakah menggereja secara virtual akan menggantikan menggereja secara fisikal? Tentu tidak dan saya bukan sales yang mendapat laba dalam menawarkan artikel ini. Menggereja secara virtual tidak menggantikan cara menggereja secara fisikal. Hanya alternatif. Namun kita harus jujur melihat ke depan dan ke belakang bila nanti yang alternatif ini menjadi prinsip, secara khusus bagi mereka yang terbaring sakit di rumah sakit. Belakangan, hampir seluruh gereja di dunia melakukan ibadah secara virtual. Jenis peribadahan virtual yang kian mengglobal ini sedikit-banyak pasti punya dampak. Satu di antaranya, gereja yang pemula dalam dunia maya sibuk membuat akun youtube dengan godaan monetize kedepannya. Bila ada gereja yang hidup dalam ketakutan finansial untuk mendukung para pelayan dan pelayanannya, maka cara virtual ini bisa menjadi dalih yang disadari tapi tak diakui.

Kedua, apakah Kristus sungguh-sungguh hadir secara virtual? Deanna sudah menjawabnya, “Ya!” Pertanyaan ini tampaknya membutuhkan jawaban yang lebih teologis. Karena itu pikiran saya tertuju pada perikop Alkitab yang menceritakan pengutusan Musa. Keluaran 3:1-22 | 4:1-7 dapat kita baca untuk menyegarkan ingatan kita kembali mengenai kisah tersebut. Yang sangat menarik bagi saya sampai saat ini adalah ayat 14 dari pasal 3. Kalimat itu adalah jawaban sekaligus pernyataan eksistensial dari Allah kepada Musa. Pernyataan eksistensial Allah ini tidak seperti pemahaman Jean-Paul Sartre (filsuf Prancis) yang mengatakan eksistensi mendahului esensi. Pada diri Allah, eksistensi dan esensi itu bersamaan ada.

EH’YEH ‘ASYER ‘EH’YEH secara literal dapat diterjemahkan menjadi “Aku akan Ada yang Aku akan Ada.” EH’YEH sebagai kata kerja dalam bentuk Qal Imperfect menandakan suatu pekerjaan yang belum selesai. Jadi dalam konteks pernyataan eksistensial yang agung ini, Allah sedang menyatakan bahwa Ia sedang bekerja dan masih terus (belum selesai) bekerja. Perkejaan-Nya itu selalu bersamaan dengan keber-Adaan-Nya. Allah dalam keber-Adaan-Nya selalu bekerja. Dia-lah Allah yang hidup dalam segala situasi. Allah tidak diam, berhenti, dan mati, dalam segala sendi kehidupan di bumi. Keber-Adaan-Nya dan pekerjaan-Nya hadir bersamaan. Baik di ruang angkasa yang maha besar maupun di ruang teramat kecil sejauh yang dapat dijelajahi dalam Fisika Kuantum. Allah omnipresence atau mahahadir seperti Mazmur Daud yang mengatakan,“Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan (Mzm. 8:2).”

Karena itulah, kita sungguh percaya bahwa tidak seiota pun di dalam alam semesta yang belum terpahami ini, yang tidak diisi oleh keber-Adaan dan pekerjaan Allah. Cafe-café yang sangat digandrungi orang masa kini dihadiri keberadaan dan pekerjaan Allah. Itulah sebabnya kita tidak malu berdoa sebelum makan dan minum di cafe. Itulah sebabnya kita bisa berdiskusi dan talkshow mengenai firman Tuhan di cafe. Mall dan supermarket juga dihadiri keberadaan dan pekerjaan Allah. Itulah sebabnya kita bertindak jujur dan mematikan hedonisme berbelanja di sana. Handphone dan gadget pun dihadiri keberadaan dan pekerjaan Allah. Itulah sebabnya kita bisa membaca Alkitab dan firman Tuhan di dalamnya. Itulah sebabnya, menggereja secara virtual sah-sah saja.

Mereka yang menolak dan lambat beradaptasi terhadap hal ini semoga bukan karena pemahaman yang institusional, organisasional, dan denominasional mengenai gereja. “Ini harus dirapatkan secara sinodal, tahun depan!” “Aturan-peraturan organisasi kita belum menyinggung gereja secara virtual. Harus diamandemen dulu, bisa tidak jemaat sendiri yang menyediakan dan makan-minum roti dan anggur? Itu pun kalau banyak yang setuju.” “Itukan denominasi orang, kita ingin tampil beda, tidak usah virtual!”

Ingatlah bahwa gereja sejak dulu tidak memahami dirinya secara institusional, organisasional, atau denominasional. Instead of Corona contagion that is spreading all around the world these days, Church should be the contagious movement spreading the word of God. Contagious movement! Begitulah gereja perdana memahami eksistensinya. Gereja yang mengada karena Allah bekerja dan keberadaan gereja pun menjadi selalu bekerja. Gereja yang menempatkan Kristus sebagai kepala gereja, bukan pejabat gereja. Gereja yang tidak ketinggalan zaman, tapi tidak terbawa arus zaman. Gereja yang selalu hadir menjawab persoalan dunia yang relevan.

Tantangan hari ini dan ke depan bukanlah Corona, tetapi teknologi digital yang membuat manusia hidup dalam dua dunia yang tak terhindarkan: faktual dan digital. Jikalau Injil Kristus seumpama vaksin dan banyak orang tertular dosa di era digital, mari kita bagikan vaksin yang dari Tuhan dengan memperisapkan diri untuk menggereja secara virtual. Karena Kristus sungguh-sungguh hadir secara virtual!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *